Thursday, 2 November 2017

PAPER UNSUR HARA

PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI) merupakan salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri pengolahan hasil hutan kayu.  Permintaan terhadap kayu dari HTI meningkat seiring meningkatnya konsumsi kayu masyarakat dan makin berkurangnya produksi kayu dari hutan alam akibat laju kerusakan hutan alam yang semakin meningkat.  Pembangunan HTI disamping upaya untuk meningkatkan produktivitas dan potensi hutan juga merupakan upaya rehabilitasi lahan hutan yang tidak produktif, penyediaan lapangan kerja dan memperluas kesempatan untuk berusaha.  Selain dari itu pembangunan HTI merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam upaya mewujudkan pengelolaan hutan secara lestari dan berwawasan lingkungan, sejalan dengan kesepakatan ITTO di Bali 1990 yang telah ditanda tangani oleh Indonesia
(Balitbang Kehutanan, 1998).
            Kegiatan pemanenan pada kulit dan batang kayu menyebabkan hilangnya unsur hara (pengangkutan keluar).  Besarnya kehilangan ini tergantung pada volume panen dan level unsur hara spesifik yang terdapat pada batang kayu dan kulit.  Hilangnya unsur hara saat pemanenan mempunyai dampak yang penting pada siklus unsur hara pada hutan tanaman industri.  Output unsur hara yang berkelanjutan akan menyebabkan degradasi tanah yang menyebabkan turunnya produktivitas (Mackensen, 2000).
            Salah satu unsur hara yang dapat hilang ataupun berkurang adalah unsur hara Magnesium (Mg).  Mg merupakan salah satu unsur hara yang dibutuhkan tanaman untuk berbagai kegiatan metabolisme.  Mg merupakan satu-satunya ion logam yang terdapat dalam molekul klorofil dan merupakan inti klorofil.  Banyak enzim yang ikut serta dalam metabolisme karbohidrat membutuhkan Mg sebagai activator.Kekurangan unsur ini akan menyebabkan klorosis pada tanaman dan menghambat reaksi gelap pada proses fotosintesis (Marschner, 1986).
            Sejak dicanangkan pembangunan HTI di Indonesia, jenis  Acacia merupakan salah satu jenis favorit. Pada awalnya jenis ini di kelompokkan kedalam jenis kayu untuk memenuhi kebutuhan kayu serat terutama untuk bahan baku industri pulp dan kertas, karena A. mangium memiliki panjang serat
0,7 - 1 mm dengan kerapatan 410-530 kg/m2.  A. mangium juga tidak memerlukan persyaratan tumbuh yang tinggi dan dapat tumbuh pada lahan yang tidak subur, sehingga banyak dikembangkan dalam HTI (Palakongas, 1996).
Tujuan Penulisan
            Adapun tujuan dari penulisan paper ini adalah agar mahasiswa
mengetahui sumber-sumber hara dalam tanah yang bermanfaat bagi
 tanaman.
Kegunaan Penulisan
            Adapun kegunaan penulisan paper ini adalah sebagai salah satu komponen penilaian di Laboratorium Kesuburan Tanah Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, dan sebagai sumber informasi bagi pihak yang membutuhkan.




UNSUR HARA MAGNESIUM
Sumber-Sumber Unsur Hara Magnesium
            Sumber Mg dalam tanah adalah mineral-mineral amfibol (Ca (Mg Fe)2 Si4O12), biotit, chlorit dan dolomit (CaCO3 MgCO3). Magnesium diambil oleh tanaman dalam bentuk ion Mg2+.Magnesium (Mg) merupakan salah satu unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah banyak atau biasa disebut unsur hara makro tanaman. Tanaman menyerap magnesium (Mg) dalam bentuk ion Mg++. Magnesium merupakan bagian dari klorofil. Kekurangan magnesium mengakibatkan klorosis yang gejalanya akan tampak pada permukaan daun sebelah bawah. Magnesium merupakan salah satu bagian enzim yang disebut Organic pyrophosphates dan Carboxy peptisida.
            Kadar Magnesium di dalam bagian-bagian vegetatif dapat dikatakan rendah daripada kadar Ca, akan tetapi di dalam bagian-bagian generatif malah sebaliknya. Magnesium banyak terdapat di dalam buah. Ketersediaan magnesium tidak boleh berlebihan karena dapat meracuni tanaman sehingga unsur magnesium harus dalam kondisi seimbang terutama dengan unsur kalsium (Ca). Magnesium bersifat mobil dalam tanaman, tetapi termasuk unsur yang tidak mobil dalam tanah. Magnesium banyak terdapat di dalam tanah.
Sumber-sumber magnesium (Mg) yaitu: CaCO3MgCO3
(Dolomitic limestone) ; Sulfat of Potash Magnesium (kandungan
Magnesium 11,1%) ; MgSO4.7H2O (Epson salt) ; MgSO4.H2O
(Kleserit) kandungan Mg 18,3%. ; MgO (Magnesia) ; Mg3SiO2(OH)4 (Terpentin) ; MgCO3 (Magnesit) ; MgCl2KCl6H2O (Karnalit) ; Basic slag kandungan Mg-nya adalah 3,4% .
Fungsi Magnesium 
            Seperti yang kita ketahui, Magnesium termasuk hara makro sekunder yangdibutuhkan oleh tanaman. Diperlukan dalam jumlah relatif banyak, lebih kecil  dibandingkan N dan K, hampir sebanding jumlahnya dengan P, S dan Ca; umumnya Mg < Ca. Hara makro Magnesium (Mg) merupakan unsur hara esensial yang sangat dibutuhkan tanaman dalam pembentukan hijau daun (chlorofil) dan sebagai co-faktor hampir pada seluruh enzim dalam proses metabolisme tanaman seperti proses fotosintesa, pembentukan sel, pembentukan protein, pembentukan pati, transfer energi serta mengatur pembagian dan distribusi karbohidrat keseluruh jaringan tanaman.
Pupuk Magnesium atau yang lebih dikenal sebagai KIESERITE, tergolong pupuk tunggal yang manfaatnya mampu memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah. Diantaranya dapat meningkatkan pH tanah dan Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah sekaligus menambah nutrisi Mg didalam tanah untuk kebutuhan tanaman.
Magnesium (Mg) juga memegang peranan penting dalam transportasi Phosphat pada tanaman.
            Manfaat Magnesium (KIESERITE) terhadap tanaman dan tanah antara lain ; 1. Menghasilkan Klorofil dengan sempurna. 2. Meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi. 3. Meningkatkan kadar minyak pada buah sawit dan lainnya.
4. Meningkatkan pH tanah dan memperbaiki struktur tanah akibat pemberian pupuk kimia. 5. Ketersediaan kandungan hara, phosfor dalam tanah.
6. Dapat mengurangi (menetralisir) racun akibat kandungan Al dan Fe dalam tanah yang tinggi. Magnesium sangat vital untuk fotosintesis: menjadi atom pusat dari molekul klorofil, jumlahnya 15- 20% total Mg dalam tanaman. Komponen struktural pada ribosom: sintesis protein. Aktivasi enzim: transfer fosfat dan gugus karboksil, yaitu reaksi ATP dan transfer energi, fiksasi CO2 oleh RuBP carboxylase.
Tanaman menyerap Magnesium dalam bentuk ion Mg++, ketersediaan Mg tidak boleh berlebihan karena dapat meracuni tanaman, sehingga unsur Mg harus dalam kondisi seimbang terutama dengan umsur Ca. Unsur hara Ca adalah bersifat mobil. FUNGSI :– Berperan dalam proses fotosintesis dan pembentukan klorofil – Untuk pembentukan enzim dan protein dalam tanaman – Menaikan kadar minyak pada tanaman – Termasuk unsur hara yang mobil didalam tanaman
Siklus Magnesium
            Magnesium (Mg) yang terdapat didalam tanah berada dalam bentuk: segera tersedia, lambat tersedia, dan tidak tersedia bagi tanaman .  Unsur Mg yang tersedia bagi tanaman berada dalam bentuk dapat dipertukarkan dan/atau dalam larutan tanah. Bentuk lambat tersedia dalam keseimbangan dengan bentuk yang dapat dipertukarkan. Sedangkan yang tidak tersedia terdapat dalam mineral-mineral primer biotit, serpentin, olivin, dan horblende serta dalam mineral-mineral  sekunder khlorit, vermikulit, ilit dan monmorilonit. Jika mineral-mineral tersebut terlapuk akan dibebaskan unsur Mg yang dapat diserap oleh tanaman
(Tisdale dan Nelson, 1975).
            Magnesium merupakan hara makro esensial. Tanaman mengambil unsure ini dalam bentuk ion Mg2+, terutama melalui intersepsi akar. Walaupun mekanisme serapan hara Mg melalui intersepsi akar adalah yang terpenting, tetapi serapannya melalui aliran massa dan difusi merupakan hal yang penting untuk tanah-tanah tertentu. Bahkan kedua mekanisme tersebut menunjukkan korelasi yang nyata terhadap serapan Mg terutama untuk tanah-tanah dengan kandungan Mg sangat tinggi atau rendah (Indrarjo, 1986 dalam Arios, 2005).
            Magnesium mempunyai peran yang penting dalam berbagai proses yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Unsur ini merupakan salah satu hara yang dibutuhkan tanaman untuk kegiatan metaboliknya. Magnesium berperan penting dalam tanaman karena merupakan satu-satunya unsur logam yang menyusun molekul klorofil (Tisdale dan Nelson, 1975). Kira-kira 10% unsur magnesium di dalam tanaman dijumpai di dalam kloroplas dan berperan sebagai aktivator spesifik dari beberapa enzim.  Menurut (Indrarjo, 1986 dalam Arios, 2005)
 enzim yang ikut serta dalam metabolisme karbohidrat yang membutuhkan magnesium sebagai aktivator seperti enzim transfosforilase,
dehidrogenase, dan karboksilase.
Kelebihan dan Kekurangan Magnesium   
            Kekurangan unsur hara Magnesium (Mg)
a. Daun-daun tua mengalami klorosis (berubah menjadi kuning) dan tampak di antara tulang-tulang daun, sedang tulang-tulang daun itu sendiri tetap berwarna hijau. Bagian di antara tulang-tulang daun itu secara teratur berubah menjadi kuning dengan bercak-bercak merah kecoklatan b. Daun-daun mudah terbakar oleh teriknya sinar matahari karena tidak mempunyai lapisan lilin, karena itu banyak yang berubah warna menjadi coklat tua/kehitaman dan mengkerut
c. Pada tanaman biji-bijian, daya tumbuh biji kurang/lemah, malah kalau toh ia tetap tumbuh maka ia akan nampak lemah sekali  Kelebihan unsur hara Magnesium (Mg)  Kelebihan Mg tidak menimbulkan gejala ekstrim.

KESIMPULAN
1. Output unsur hara yang berkelanjutan menyebabkan degradasi tanah, yang
     menyebabkan turunnya produktivitas.
2. Konsentrasi hara Mg terbesar pada tanah untuk rotasi pertama adalah pada
     Umur 1 tahun yaitu 2,52 me/100 gram, sedangkan untuk rotasi kedua
     kandungan Mg terbesar adalah pada Umur 1 tahun yaitu sebesar 1,02 me/100g 
3. Konsentrasi hara Mg pada bagian tanaman banyak terkonsentrasi pada bagian
    daun yaitu sebesar 0,18 % .  pada bagian daun banyak mengandung Mg karena
    sangat dibutuhkan dalam melakukan kegiatan fotosintesis, reaksi gelap dan
    proses metabolisme.
4. Kandungan hara pada Mg pada biomassa untuk rotasi kedua mengalami
     penurunan, pada rotasi pertama sebesar 328,4 kg/ha, sedangkan pada rotasi
     kedua sebesar 21,86 kg/ha.











DAFTAR PUSTAKA
Anonymus. 1991. Kesuburan Tanah. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
            Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.

Arios, J.R. 2005. Pengaruh Pemberian Pupuk Magnesium (Mg) Terhadap Kadar
            Klorofil Total Daun, dan Serapan Hara Mg Tanaman Kacang Tanah
            (Arachis hypogea L.) pada Podsolik Jasinga dan Latosol Darmaga. Skripsi.
            Fakultas Pertanian IPB. Tidak Dipublikasikan.

Awang, K dan D. Taylor. 1993.  Acacia mangium : Growing and Utilization.
            Winrock International and Food and Agriculture Organization of The
            United Nation. Bangkok.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. 1994. Pedoman Teknis
            Penanaman Kayu Komersil. Departemen Kehutanan. Badan Penelitian dan
            Pengembangan Kehutanan. Jakarta.

Hardjowigeno, S. 1985. Ilmu Tanah. Akademi Pressindo. Jakarta.

Indrihastuti, D. 2004. Kandungan Kalsium pada Biomassa Tanaman  Acacia
            mangium Willd dan pada Tanah Podsolik Merah Kuning di Hutan
            Tanaman Industri. Skripsi. Fakultas Kehutanan IPB. TidakDipublikasikan.

Kusmana, C., S. Sabiham., K. Abe and A. Watanabe. 1992. An Estimation Of
            Above Ground Tree Biomass of a Mangrove Forest in SumateraIndonesia.

Kusmana, C. dan Istomo. 2003. Penuntun Praktikum Ekologi Hutan.Laboratorium
            Ekologi Hutan. Bogor

Mackensen, J. 2000. Kajian Suplai Hara Lestari pada Hutan Tanaman Cepat
            Tumbuh, Implikasi Ekologi dan Ekonomi di Kalimantan Timur, Indonesia.
            Badan Kerjasama Teknis Jerman – Deutche GeselischhaftfurTecchnische
            Zusammenarbeit (GTZ). Eschborn, Jeman.

Mejupan, E. 2001. Pengukuran Biomassa dan Kandungan Hara Kalsium (Ca) di
            Atas Permukaan Tanah pada Hutan Rawa Gambut (Studi Kasus di HPH
            PT Diamond Raya Timber, Bagan Siapi-api, Propinsi Dati I

Mengel, K. and E.A. Kirkby. 1982. Principles of Plant Nutrition. Third Edition.
            International Potash Institute. Bern, Zwitzerland. 665 p.

Nurhasybi. 2000. Benih Tanaman Hutan Indonesia. Balai Teknologi Perbenihan.
            Vol 2. No.3. Bogor.

Saharjo, B.H. 1996. Fire Behaviour and Forest Manajement in Acacia mangium
            Plantation in South Sumatera, Indonesia.(Thesis). Japan : M. Agr. Kyoto
            University.